Senin, 19 Desember 2011

Tradisi pernikahan betawi



TRADISI

 Image and video hosting by TinyPic

Kemeriahan Gaya Betawi

Masyarakat Betawi memiliki sejarah panjang sebagaimana terbentuknya kota
Jakarta sebagai tempat domisili asalnya. Sebagai sebuah kota dagang yang ramai,
Sunda Kelapa (nama Jakarta tempo dulu) disinggahi oleh berbagai suku bangsa.
Penggalan budaya Arab, India, Cina, Sunda, Jawa, Eropa, dan Melayu seakan
berbaur menjadi bagian dari karakteristik kebudayaan Betawi masa kini. Tradisi
budaya Betawi laksana campursari dari beragam budaya dan elemen etnik masa silam
yang secara utuh menjadi budaya Betawi kini. Kemeriahan budaya Betawi juga
terwakili melalui tata cara pernikahan Betawi.

Pada tata cara pernikahan Betawi, ada banyak serangkaian prosesi. Berikut
kami paparkan rangkaian upacara pernikahan gaya Betawi yang masih dilakoni oleh
sebagian besar masyarakat Betawi.

NGEDELENGIN

Didahului masa perkenalan melalui mak comblang yang disebut Ngedelengin.
Ngedelengin bisa dilakukan beberapa kali dan dalam jangka waktu bervariasi mulai
dari satu atau dua bulan sampai satu tahun. Hal ini sedikit banyak tergantung
pada kesigapan si gadis menghadapi jenjang pernikahan. Namun seiring dengan
kemajuan jaman, fungsi mak comblang dan proses ngedelengin sudah jarang
diperlukan. Pasalnya, si pria sudah bisa menemukan tambatan hati sendiri,
sekaligus memiliki kesanggupan untuk menentukan pilihannya untuk menuju mahligai
perkawinan.



 


 Image and video hosting by TinyPic



 

 

NGELAMAR

Ngelamar merupakan pernyataan resmi dari pihak keluarga laki-laki untuk
menikahkan putranya kepada pihak calon mempelai perempuan. Ngelamar dilakukan
oleh beberapa orang utusan yang disertai dengan membawa sejumlah barang bawaan
wajib seperti uang sembah lamaran, baju atau bahan pakaian wanita, serta
beberapa perlengkapan melamar lainnya. Setelah Ngelamar selesai, acara yang
sangat menentukan pun dilanjutkan yakni membicarakan masalah mas kawin, uang
belanja, plangkah (kalau calon mendahului kakaknya), dan kekudang (makanan
kesukaan calon mempelai wanita). Apabila bawa tande putus telah disepakati, maka
dilanjutkan dengan pembicaraan yang lebih rinci perihal apa dan berapa banyak
tande putus serta segala hal yang berkaitan dengan acara pernikahan.

Image and video hosting by TinyPicBAWA TANDE PUTUS

Acara ini hampir mirip dengan acara pertunangan. Tande putus bisa berupa apa
saja, namun orang Betawi biasanya memberikan tande putus berupa cincin belah
rotan, uang pesalin sekadarnya, serta aneka rupa kue. Tande putus ini sendiri
artinya si gadis atau calon none mantu telah terikat dan tidak dapat lagi
diganggu oleh pihak lain. Begitu pula dengan calon tuan mantu atau si pemuda.
Setelah tande putus diserahkan, maka berlanjut dengan menentukan tanggal dan
hari pernikahan.

 



PIARE CALON NONE PENGANTEN

Setelah pembicaraan persiapan pernikahan selesai, kemudian calon pengantin
wanita akan dipiare (dipelihara) oleh tukang piare. Tujuannya yaitu untuk
mengontrol kegiatan, kesehatan dan memelihara kecantikan calon none mantu
menghadapi pernikahan. Selain perawatan fisik, juga dilengkapi program diet
dengan pantangan makanan tertentu untuk menjaga berat tubuh ideal calon mempelai
wanita.

SIRAMAN, DITANGAS, NGERIK DAN MALEM PACAR

Acara siraman atau memandikan calon mempelai wanita diadakan sehari sebelum akad
nikah dan biasanya diawali dengan pengajian. Setelah acara siraman, calon
mempelai wanita menjalani upacara tangas (semacam mandi uap). Perawatan
dimaksudkan untuk menghaluskan dan mengharumkan kulit tubuh sekaligus mengurangi
keringat pada saat hari pernikahan. Berikutnya adalah prosesi ngerik atau
mencukur bulu kalong dan membuatkan centung pada rambut di kedua sisi pipi di
depan telinga. Kemudian dilanjutkan dengan malem pacar, malam dimana mempelai
wanita memerahkan kuku kaki dan tangannya dengan pacar.



 


Image and video hosting by TinyPicAKAD
NIKAH


Puncak adat Betawi adalah Akad nikah. Meriah dan penuh warna-warni, demikian
gambaran dari tradisi pernikahan adat Betawi menjelang akad nikah. Diiringi
suara petasan, rombongan keluarga mempelai pria berjalan memasuki depan rumah
kediaman mempelai wanita sambil diiringi oleh ondel-ondel, tanjidor serta
marawis (rombongan pemain rebana yang menyanyikan lagu berbahasa Arab). Bahkan
dahulu, rombongan calon mempelai pria berjalan sambil menuntun kambing.





 

BUKA PALANG PINTU

Sesampainya di depan rumah terlebih dulu diadakan prosesi buka palang pintu,
berupa berbalas pantun dan adu silat antara wakil dari keluarga pria dan wakil
dari keluarga wanita. Prosesi tersebut dimaksudkan sebagai ujian bagi mempelai
pria sebelum diterima sebagai calon suami yang akan menjadi pelindung bagi
mempelai wanita sang pujaan hati. Uniknya, dalam setiap petarungan silat, jago
dari pihak mempelai wanita pasti dikalahkan oleh jagoan mempelai pria.



 


Image and video hosting by TinyPicDI
PUADE


Selain itu ada pula prosesi di puade. Setelah kedua mempelai duduk di puade
(pelaminan), tukang rias membuka roban tipis yang menutupi kepala mempelai
wanita. Selanjutnya mempelai pria memberikan sirih dare kepada mempelai wanita
sebagai lambang cinta kasih. Biasanya di dalam sirih diselipkan uang sebagai
uang sembe (seserahan).

 

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar